Mengenal Koteka dari Papua


Indonesia kaya akan seni dan budaya. Jika dipaparkan satu persatu, rasanya tidak cukup satu halaman. Mari sejenak kita melongok ke sebelah Utara Australia, Pulau Papua. Ketika warga JABODETABEK menganggap kaos dan celana adalah pakaian, sebagian penduduk asli di Papua khususnya laki-laki masih menggunakan koteka.

Koteka yang dimaksud bukan pakaian yang menutupi seluruh badan namun sebagai penutup kemaluan laki-laki saja. Secara harfiah, koteka bermakna pakaian yang berasal dari bahasa Mee --salah satu suku pribumi Pengunungan Tengah Papua yang hidup dan mendiami Kabupaten Paniai, Dogiay, dan Nabira.

Adapun suku lain, Suku Dani yang tinggal di Lembah Baliem menyebut koteka, "holim" atau "horim". Tiap suku masyarakat pribumi Pegunungan Tengah mempunyai sebutan yang berbeda.

Koteka terbuat dari labu air. Orang Mee menyebut labu air, bobbe yang biasanya ditanam di kebun atau di halaman rumah mereka. 



Proses pembuatannya dipetik, lalu bobbe dimasukkan ke dalam pasir halus. Di atas pasir halus dibuat api besar sampai kulit bobbe panas, teksturnya lembek dan isinya akan mencair. Biji-biji dan cairan di dalamnya akan keluar dari dalam ruas bobbe. Kemudian Bobbe digantung [dikeringkan] di perapian hingga kering. Setelah kering, bobbe dilengkapi dengan anyaman khusus dan siap pakai sebagai koteka.

Ukuran dan bentuk koteka bergantung pada aktivitas si pengguna, untuk keperluan bekerja atau upacara. Suku-suku di sana dapat dikenali dari cara mereka menggunakan koteka, misalnya yang berukuran pendek digunakan saat bekerja, dan yang ukuran panjang dengan hiasan-hiasan digunakan dalam upacara adat.

Tiap suku memiliki perbedaan bentuk koteka. Suku Yali --tinggal di Kabupaten Yahukimo-- misalnya, menyukai bentuk labu yang panjang. Berbeda dengan orang Tiom. Kelompok masyarakat Suku Lani yang hidup di pegunungan barat Jayawijaya ini biasanya memakai dua labu.

0 Response to "Mengenal Koteka dari Papua"

Post a Comment